Oleh Cut Fatimah Zuhra*
Alkisah di negeri Alas hidup seorang raja yang bijaksana dan dicintai rakyatnya. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana. Sehari-hari pikirannya dicurahkan untuk memajukan negeri dan memakmurkan rakyatnya.
Namun, sayang, sang raja tidak mempunyai putera dan mereka sedih. Atas nasihat orang pintar, raja dan permaisuri tekun berdoa sambil berpuasa beberapa bulan kemudian permaisuri pun mengandung.
Setelah sampai waktunya permaisuri melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Amat Mude. Belum genap setahun umur Amat Mude, ayahnya meninggal dunia.
Karena Amat Mude masih bayi, maka adik sang raja atau pakcik Amat Mude diangkat sebagai raja sementara.
Pakcik itu bernama Raja Muda, setelah diangkat menjadi raja dia malah bertindak kejam kepada Amat Mude dan ibunya.
Mereka diasingkan ke sebuah hutan terpencil. Raja Muda ingin menguasai sepenuhnya kerajaan yang sesungguhnya menjadi hak Amat Mude.
Walaupun dibuang jauh dari istana, permaisuri tidak mengeluh. Ia menerima cobaan itu dengan sabar dan tabah. Ia besarkan Amat Mude dengan penuh kasih sayang.
Tahun demi tahun berlalu, tak terasa Amat Mude tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan.
Amat Mude suka memancing ikan di sungai. Pada suatu hari, permaisuri dan Amat Mude pergi ke sebuah desa di pinggir hutan untuk menjual ikan. Tanpa disangka-sangka ia bertemu dengan saudagar kaya. Ternyata itu bekas sahabat sang raja dulu.
“Mengapa Tuan Putri dan Putra Mahkota berada di tempat ini?” tanya saudagar itu keheranan.
Permaisuri lantas menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya. Mendengar cerita itu, sang saudagar lantas mengajak mereka ke rumahnya dan membeli semua ikannya.
Setibanya di rumah, saudagar itu segera menyuruh istrinya memasak ikan tersebut. Ketika istri saudagar membelah perut ikan, keluar telur ikan yang berupa emas murni. Emas-emas itu kemudian dijual ke pasar oleh istri saudagar. Uangnya ia gunakan untuk membangun rumah permaisuri dan putranya.
Sejak saat itu, permaisuri dan Amat Mude telah berubah menjadi orang kaya berkat telur-telur emas dari ikan.
Cerita tentang kekayaan permaisuri dan putranya sampai ke telinga Raja Muda. Hingga pada suatu hari, Raja Muda memanggil Amat Mude ke istana. Ia memerintahkan Amat Mude memetik kelapa gading untuk mengobati penyakit istri Raja Muda yang ada di sebuah pulau di tengah laut.
Konon, lautan di sekitar pulau itu dihuni oleh binatang-binatang buas. Siapa pun yang melewati lautan itu pasti celaka. Raja Muda mengancam Amat Mude, jika ia tidak berhasil, maka ia akan dihukum mati.
Namun, Amat Mude tidak peduli dengan ancaman itu. Niatnya tulus hendak menolong istri Raja Mude. Ia pun segera berangkat meninggalkan istana.
Setibanya di pantai, ia duduk termenung. Tiba-tiba muncul di hadapannya seekor ikan besar bernama Si Lengang Raye, didampingi oleh raja buaya dan seekor naga besar.
Singkat cerita, Amat Mude telah menemukan pohon kelaa gading dengan bantuan Si Lengang Raye, raja buaya, dan naga. Selanjutnya Amat Mude memanjat pohon. Ketika ia sedang memetik buah kelapa gading, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan.
“Siapa engkau?” tanya Amat Mude.
“Aku Putri Niwer Gading,” jawab suara dari pohon kelapa.
Amat Mude cepat-cepat memetik kelapa gading dan segera turun. Alangkah terkejutnya Amat Mude melihat kecantikan Puteri Niwer Gading.
Akhirnya Amat Mude pun mengajak sang puteri pulang ke rumah untuk dipersunting. Setelah menikah Amat Mude beserta istri dan ibunya berangkat ke istana untuk menyerahkan buah kelapa gading.
Kedatangan Amat Mude membuat Raja Mude terheran-heran. Ia berpikir, orang yang berhasil melewati rintangan di pulau angker pastilah orang sakti. Ia tidak mau main-main lagi dan berpikir tidak ada alasan untuk menghukum mati keponakannya itu.
Akhirnya, Raja Muda Sadar akan kesalahannya, ia memohon maaf kepada Permaisuri dan Amat Mude. Beberapa hari kemudian Amat Mude dinobatkan menjadi raja di Negeri Alas.[]
*Penulis adalah Santri Kelas VIII Tsanawiyah Baitul Arqam
Tinggalkan Komentar