
Rabu, 12 Februari 2020 tepatnya pada pukul 09.15 WIB, di Pesantren Baitul Arqam di Desa Tampok Blang, Kecamatan Suka Makmur, matahari bersinar begitu cerah. Secerah hati para santri yang terpilih untuk mengunjungi Kantor Serambi Indonesia yang berlokasi di Jalan Raya Lambaro KM 4,5, Desa Meunasah Manyang, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.
Mengunjungi Serambi Indonesia bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan sembarang orang. Namun, alhamdulillah Kak Ihan yang merupakan wartawan aceHTrend telah membawa para santri ke tempat yang menjadi pusat media tertua di Aceh, yang baru-baru ini berulang tahun ke-31, sejak didirikan pada tanggal 9 Februari 1989.
Para santri yang pergi semuanya berjumlah 21 orang. Sesampai di sana para santri disambut oleh Kak Ihan, Ustaz Hayatullah, dan Kak Husna yang sebelumnya baru saja mendatangi Baitul Arqam untuk memberi sejumlah materi kepada para santri di kelas jurnalistik.
Kak Husna membimbing para santri menuju ke news room yang ada di lantai dua kantor Serambi Indonesia. News room ialah tempat di mana setiap wartawan melakukan rapat redaksi. Kak Husna memperkenalkan para santri kepada Bang Safnadi yang bertugas sebagai Penanggung Jawab Multimedia.
Serambi Indonesia memiliki mesin cetak yang besar di tiga daerah, yaitu Lhokseumawe, Banda Aceh, dan Aceh Barat Daya.
Di samping itu santri juga diperkenalkan kepada seorang fotografer yang sudah berpengalaman dalam mencari berbagai momen untuk difoto.
“Jika kita seorang fotografer, kita itu harus siap menghadapi tantangan seperti disiplin waktu dan harus sabar menunggu momen yang lebih besar,” ujar Bang Hendri atau yang lebih dikenal dengan panggilan Bang Abik itu.
Kak Husna banyak mengajarkan para santri tentang susah dan senangnya menjadi seorang jurnalis.
“Jika ingin menjadi seorang jurnalis, harus dilatih sejak kecil dan mengasah skillnya dengan menuangkan apa yang dipikirkan itu dalam bentuk sebuah tulisan,” kata Kak Husna.
Seusai dari news room, para santri berlanjut ke ruang Radio Serambi FM yaitu tempat penyiaran radio.
“Menjadi seorang penyiar itu bahasanya tidak boleh medok, intonasinya juga harus jelas dan harus update,” kata Kak Tia, yang melakukan penyiaran radio mulai dari pukul 09.00-12.00 WIB.
Dan barulah santri ke bagian Kompas TV. Serambi juga memiliki siaran televisi yang ditayangkan di YouTube pada channel Serambi On TV. Setelah dari Kompas TV langsung ke tempat percetakan koran, tabloid, dan lain-lain.
Terdapat banyak gulungan kertas berwarna putih tipis yang didatangkan dari Surabaya. Percetakan akan baru dimulai setelah magrib. Koran dicetak sekitar 30 ribu eksemplar per harinya. Ruang percetakan merupakan tempat kunjungan terakhir para santri di Serambi Indonesia. Sekitar pukul 11.00 WIB kami semua pulang setelah sebelumnya sempat mampir untuk minum kopi di Moorden Coffee.[]
*Santri kelas X Madrasah Aliyah Baitul Arqam, peserta Mentoring Jurnalistik 2020
Tinggalkan Komentar