oleh: Jarnida Nababan*
Sebagai alumni angkatan perdana di MTs dan MA Baitul Arqam, saya merasa tidak percaya diri mampu bersaing dalam segala hal melihat teman-teman lain berasal dari sekolah prestise kala itu. Alhamdulillah, setelah selesai dari BA saya merasakan keunggulannya. Baik itu dari segi pendidikan dan pengalaman. Saat ini saya mendapatkan beasiswa Tahfizul Al-Qur’an di KUNTUM INDONESIA yang berpusat di Cipatik, Jawa Barat dan sudah mengkhatamkan 30 juz Alquran serta menjadi Musyrifah di Brebes, Jawa Tengah. Jazakumullahu Khairan katsira untuk para guru dan asatidz di Baitul Arqam.
Saat pertama sekali duduk di kelas I Madrasah Tsanawiyah, kami berjumlah 12 orang dalam satu kelas. Aku masih ingat bagaimana waktu itu kami masih belajar bahasa Inggris dengan seorang volunteer asal Korea yang bernama Jihyeon, kami memanggilnya Jihyeon Oenni atau Kak Jihyeon. Hanya berselang tiga bulan setelah itu status Panti Asuhan berganti dengan Dayah Pesantren Baitul Arqam, aku yang merasakan langsung proses perubahan itu, kalau bisa disebut dengan transformasi, sedikit kewalahan juga. Apalagi dahulu kakak-kakak yang masih sekolah di luar seperti SMA negeri 1 Sibreh, mereka harus mengikuti pelajaran Dayah selepas dari sekolahnya. Ada yang bertahan dan tetap melanjutkan bersekolah di luar dengan tetap berusaha beradaptasi dengan peraturan-peraturan Dayah, ada pula satu dan dua orang memilih kembali ke orang tua asuh atau keluarga jauh untuk bisa melanjutkan sekolah di luar dan kadang-kadang berkunjung ke Dayah ketika mereka libur sekolah.
Pasang surut semangat kami seringkali tergantung pada staf dan dewan pengajar di Dayah, aku masih bisa mengingat bagaimana para ustaz dan ustazah cukup kewalahan menangani kami yang banyak mau dan sedang suka mencoba-coba hal baru.
Suasana perubahan bahasa yang dibangun alhamdulillah tidak begitu membuatku kaget, karena sebelum menjadi boarding school atau pesantren pun, panti asuhan kami pernah mendapat beberapa kali kunjungan dari relawan luar negeri. Jadi, mendengarkan penutur bahasa asing berbicara secara langsung, bukan hal baru lagi bagiku dan teman-teman.
Saat ini aku masih sering berkirim kabar dengan teman-teman, adik tingkat, asatidz, dan dewan guru Baitul Arqam. Aku kerap melafazkan doa semoga ilmu yang berikan kepadaku dan teman-temanku bisa menjadi pemberat amalan bagi para guru dan asatidz kami kelak di yaumil hisab. Aamiin.

*Penulis adalah alumni santri Baitul Arqam angkatan I
Tinggalkan Komentar