Oleh: M. Rendy

Di sebuah hutan hiduplah Kepompong dan Semut. Semut selalu menghina Kepompong karena tidak bisa kemana-mana untuk jalan-jalan melihat sekitar hutan. Semut tersebut tidak pernah berhenti menghina si Kepompong.
‘’Apa enaknya terkurung di dalam sana, pengap, gelap, dan tidak bisa melihat dunia luar!’’ cela semut di sebelah Kepompong.
Kepompong hanya bergeming, ia tidak pernah membalas ejekan si Semut, tapi dalam hatinya sebenarnya ia sedih sekali.
Musim berganti, hujan mulai turun tak henti-hentinya.
’’Ahhh… air…air… air mulai masuk dari pintu utama!’’ teriak semut penjaga kepada penghuni sarang tersebut.
’’Semua harus bersiap-siap untuk berangkat, kita harus mengungsi dengan cepat ke tempat yang lebih tinggi!’’ perintah Ratu Semut.
Setelah itu terjadilah banjir karena turun hujan yang tak henti-henti, semut yang biasa mengejek si Kepompong terjebak di sebuah tanah yang tergenang air dan ia pun berteriak minta tolong.
Tak lama setelah itu, ada seekor Kupu-kupu datang untuk menyelamatkan si Semut. Setelah ditolong Semut berterima kasih kepada Kupu-kupu.
‘’Kamu masih ingat padaku?’’ tanya semut tiba-tiba. Si Semut merasa pernah mendengar suara tersebut, tapi ia yakin sekali tidak pernah mengenal Kupu-kupu tersebut. Sayapnya indah berwarna-warni, belum pernah ia melihat makhluk semolek Kupu-kupu itu sebelumnya.
“Tidak, apa aku mengenalmu?” Semut balik bertanya pada Kupu-kupu tersebut.
“Akulah si Kepompong yang tingga di atas sarangmu tempo hari.”
Wajah si Semut bersemu merah seketika, mengingat bahwa hampir saban hari ia mengejek Kepompong yang bergelantung di batang pohon yang ada di dekat sarangnya.
Akhirnya si Semut menyadari kesalahannya karena sering mengejek Kupu-kupu yang dahulu berbentuk kepompong.
“Maafkan aku, ya Kepompong, eh… Kupu-kupu,” ujar si Semut penuh sesal.
Tinggalkan Komentar