17 February 2020

Dikerjain Ibu

Monday, 17 February 2020 Kategori : Pojoksantri

Oleh Cut Fatimah Zuhra

 

Hari minggu yang sunyi di rumah, aku mulai bingung ada apa yang terjadi di rumah ini, dan aku mulai merasa tak biasanya seperti ini. Apakah karena aku baru bangun tidur jadi perasaanku hampa gini. Dan aku mulai memanggil ibu, tapi sayangnya tak satu pun suara yang membalas panggilanku.

Aku bingung karena ibu pergi, aku lelah mencarinya ke sana kemari. Aku termenung lelah di atas kursi di teras belakang rumah. Aku menatap pepohonan yang hijau merasakan sepoi-sepoi angin pagi.

Pikiranku kacau. Aku gelisah dan marah, ke mana sih ibu pergi? Masak aku ditinggal sendiri di rumah ini, setidaknya ibu memberi kabar jika ingin pergi, jadi aku tak khawatir gini.

Aku menunggu detik demi detik, waktu demi waktu, jam demi jam berlalu, tak disangka sudah pukul 10:30 WIB. Satu jam lebih aku menunggu ibu yang tak kunjung datang, perutku berbunyi drastis keleparan. Ya Tuhan! aku sangking fokus menunggu ibu sampai lupa sarapan pagi. Di saat aku membuka tudung saji tak satu pun ada makanan yang bias di makan.

Hanya semut-semut yang bertebaran, aku mulai bosan apakah di pikiran ibu sehingga aku ditinggalin begini. Aku sangat lapar dan tak tahu harus buat apa. Aku mulai membuka kulkas dan aku sangat terkejut, apa yang terjadi sebenarnya?

Apakah aku lagi bermimpi dan aku mulai menepuk pipiku. Ya Tuhan, ini benar-benar nyata aku bingung, semalam kulkasku ini terisi penuh dengan sayur-sayuran, dengan buah-buahan, dan makanan yang lain. Aku mulai melihat ke tempat yang lain, mungkin ibu memindahkannya ke tempat lain. Ternyata makanan kosong semuanya. Aduhh!!

Perutku mulai merasa sakit, aku mulai melihat jam dinding ternyata uda pukul 12:00 WIB. Ya Tuhan, di mana aku harus mendapatkan makanan dan aku mulai mencari uang untuk membeli makanan. Ternyata aku cuma menemukan dua ribu lima ratus perak.

Ya sudahlah, aku pasrah. Pas aku mau ke kedai depan, tiba-tiba ibu pulang bersama ayah dan adik, ibu memberikan aku dua kantong plastik hitam.

Tanpa berkata panjang lebar, ibu menyuruh aku membuka itu dan aku terdiam sambil membuka plastik yang ibu berikan. Ibu memeluk dan menyium aku sambil berkata,

“Yang makin tua baik-baik akhlaknya ya.”

Di situ aku mulai bodoh, ternyata aku dikerjai sama ibu. Perasaanku bercampur aduk, sedih, kesal, palak, dan marah. Tapi aku senang dan bangga. Makasih ibu atas kejutanmu yang membuatku bingung.[]

* Santri Kelas VIII Tsanawiyah Baitul Arqam

No Comments

Tinggalkan Komentar